Prolog: Dilema Darah dan Panggilan Lawu
Setiap pendaki Lawu tahu mitosnya: Gunung ini adalah keraton spiritual Prabu Brawijaya V. Dan setiap orang yang berdarah Cepu (atau Blora/Bojonegoro, keturunan Adipati Cepu) tahu pantangannya: "Dilarang mendaki Lawu. Petaka akan mengintai."
Mitos ini berakar dari sumpah raja yang sakit hati, yang merasa dikhianati dan dikejar oleh pasukan Adipati Cepu hingga ke lereng Lawu. Selama bertahun-tahun, pantangan ini menjadi tembok tak terlihat yang membatasi saya.
Namun, untuk pendakian ini, saya sengaja memilih jalur Candi Cetho. Jalur ini bukan hanya menawarkan sabana yang indah, tetapi juga aura spiritual yang paling kental, dimulai dari kompleks candi Hindu kuno. Saya ingin menghadapi mitos itu di gerbangnya yang paling sakral.
Detail Misi:
- Gunung: Lawu (3.265 mdpl)
- Jalur Pembuktian: Candi Cetho (Karanganyar)
- Tantangan: Melawan rasa takut yang diwariskan oleh darah.
Hari 1 : Badai Brutal di Track Adalah Kode Keras, Cepu Dilarang Menginjakkan Kaki!
Kami memulai registrasi di basecamp Cetho, udaranya sejuk, aroma teh dan kopi dari warung-warung kecil berpadu dengan kabut tipis yang menyelimuti kawasan candi. Sembari petugas menjelaskan peraturan dan pantangan, mereka juga berpesan "luruskan niat, dijaga anggotanya"
Jalur Awal yang 'Angker'
Pendakian via Cetho terasa berbeda dari awal. Trek awal disuguhi jalan setapak desa yang melewati perkebunan warga, termasuk candi kethek, ini adalah sesi pemanasan yang cukup membuat napas tersengal, Setelah melewati Candi Kethek, kami langsung disambut tanjakan terjal yang panjang, jalur tangga alam yang mirip pintu gerbang menuju singgasana.
Di sinilah kami mulai merasakan ciri khas Cetho: Tanjakan yang panjang dan konsisten. Jalurnya didominasi tanah padat bercampur akar, yang terasa licin setelah dilalui pendaki lain. Kami menemukan beberapa shelter sederhana dan yang terpenting: sumber air melimpah di sekitar Pos 3.
Dan dari pos 3 itulah cerita mistis dimulai. langit terlihat sangat mendung, dan kabut mulai tebal hingga menutupi jarak pandang. Sementara itu, perjalanan masih sangat panjang, hingga akhirnya kami memutuskan untuk melanjutkan tracking dengan pelan-pelan, melihat kondisi yang tidak memungkinkan. Setapak demi setapak kita lewati bersama. hingga akhirnya, hujan badai menerpa dan kami memutuskan untuk berhenti sejenak sembari menunggu hujan reda.
Namun alam berkata lain, justru hujan turun semakin lebat disertai dengan angin kencang. yang membuat porter kita semakin kewalahan melihat banyaknya beban yang dibawa, dengan perasaan sedikit putus asa dan memilih berhenti hingga menunggu hujan reda.
Waktu menunjukkan semakin petang.Seakan-akan matahari hilang tanpa bayangan. Kegelapan itu menjadi pertanda, bahwa kita harus lebih keras lagi mencapai camp area
Pos 4 Bulak Peperangan
Tepat pukul 19.30 kita sampai di bulak peperangan (area camp) dengan mendirikan tenda dibatas vegetasi. Angin malam di bulak peperangan bertiup sangat kencang, dengan suara menderu, seolah-olah angin memaksa masuk hingga kedalam tenda, kehangatan mulai terpancar ketika teman-teman mulai menyalakan api untuk mehidangkan makan malam, suara canda tawa mulai terdengar nyaring ditelinga seolah tidak pernah terjadi apapun sebelumnya, kebahagiaan kecil seperti itu akan menjadi moment yang tak akan pernah terlupakan. Semakin Malam, hawa dingin semakin terasa hingga menembus lapisan kulit, rasanya memakain jaket tebal saja tak cukup untuk menemani tidur. Sampai akhirnya mengharuskan menggunakan sleping bag sebagai pereda dingin dengan beralaskan foto and hand warmer.
Matahari mulai terbit dan kami menyiapkan mental serta fisik untuk mulai summits, tampaknya udara lebih segar dari kemarin, seakan memanggil dan bertanya sudah siapkah perjalan hari ini?
kami melihat sekekliling tenda yang tersisa hanyalah tanah yang becek sisa hujan kemarin disertai dengan barang-barang pendakian yang basah terkena hujan. terutama sepatu kami, kami melihat tidak ada lagi alas yang bisa dipakai untuk summit, mengingat kami hanya membawa sepasang sepatu, dan itupun sudah terguyur hujan semalaman. yang akhirnya kami bersepakat untuk tidak memulai tracking menuju puncak dan memilih turun untuk mengantisipasi terjadi hal yang tidak di inginkan,
Dengan berat hati kami berjalan menuruni gunung, berharap di kesempatan lain bisa mengunjunginya lagi, entah dengan orang yang sama atau mungkin dengan orang yang berbeda
Tapi saya rasa pendakian kali ini terlalu indah jika hanya dikenang, ini lebih dari itu
Epilog: Perdamaian di Ketinggian
Perjalanan turun adalah saat merenung. Mitos larangan itu mungkin benar secara historis, sebagai peringatan atas perseteruan kuno. Tetapi di era modern, Lawu terbuka bagi siapa saja yang datang dengan niat baik, penghormatan, dan kesiapan. Misi saya untuk membuktikan bahwa di atas sana, Lawu menerima semua pendaki. Lawu telah memberikan pelajaran terbesar: sejarah adalah untuk diingat, bukan untuk selamanya mengekang langkah kita. Jika kamu, seperti saya, membawa darah 'pantangan' dari masa lalu, jangan biarkan itu menghentikanmu. Datanglah ke Lawu, tataplah keagungannya, dan buktikan bahwa niat baikmu lebih kuat dari sumpah lama.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar